SUMATERA – Penanganan darurat bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah provinsi di Sumatera, termasuk Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar), terus diintensifkan di tengah bertambahnya jumlah korban jiwa dan terputusnya akses darat di banyak titik. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan jajaran TNI/Polri saat ini fokus pada percepatan evakuasi, pencarian korban hilang, dan distribusi bantuan melalui jalur alternatif.
1. Korban Meningkat, Akses Darat Menjadi Kendala Utama
Data terkini menunjukkan bahwa skala bencana ini masif, dengan ratusan korban jiwa dan korban hilang yang masih dalam pencarian. Di Sumatera Utara saja, dilaporkan lebih dari 100 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya masih dinyatakan hilang.
Kepala BNPB menyatakan, salah satu tantangan terbesar adalah lumpuhnya akses jalan utama di beberapa daerah, seperti jalur menuju Sibolga dan sejumlah ruas di Padang-Bukittinggi yang putus total. Hal ini menghambat pergerakan tim SAR dan pasokan bantuan.
“Kami harus mengakui, kendala logistik dan akses menjadi krusial. Alat berat tidak bisa masuk. Oleh karena itu, skema penanganan darurat diubah dengan memprioritaskan kekuatan udara dan laut,” ujar seorang pejabat di Posko Penanggulangan Bencana.
2. Pengerahan Alutsista Laut dan Udara
Menanggapi situasi darurat, TNI Angkatan Laut telah mengerahkan armada kapal, termasuk KRI Soeharso-990 (kapal bantu rumah sakit) dan KRI Semarang-594. Kapal-kapal ini difungsikan untuk:
* Evakuasi dan Perawatan Medis: Memberikan layanan kesehatan darurat dan mengevakuasi korban ke lokasi yang aman.
* Distribusi Logistik: Mengangkut bantuan pangan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya dalam jumlah besar.
* Pergeseran Pasukan: Memobilisasi personel TNI dan relawan ke daerah terpencil yang terisolasi.
Selain itu, helikopter dan pesawat kargo terus dikerahkan oleh BNPB dan Kementerian Pertahanan untuk menjangkau desa-desa yang terputus, memastikan pasokan makan bergizi dan obat-obatan tersalurkan kepada para pengungsi.
3. Sorotan Pemerintah dan Desakan Status Bencana Nasional
Bencana ini menarik perhatian penuh dari pemerintah pusat. Presiden dan Menteri terkait telah mengeluarkan instruksi tegas untuk memastikan penanganan berjalan cepat dan terkoordinasi.
* Jaminan Rehabilitasi: Pemerintah menjanjikan akan mengganti kerugian dan merehabilitasi rumah-rumah warga yang rusak akibat bencana.
* Pengawasan Infrastruktur: Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) fokus pada perbaikan infrastruktur publik yang rusak parah, termasuk jembatan dan jalan, agar mobilitas ekonomi segera pulih.
* Permintaan Status Bencana Nasional: Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) mendesak pemerintah agar segera menetapkan status Bencana Nasional mengingat luas dan masifnya dampak yang ditimbulkan, yang melintasi batas-batas provinsi.
4. Isu Tambang Ilegal dan Pemulihan Psikologis
Di balik upaya penanggulangan, temuan kayu gelondongan dalam jumlah besar yang terbawa arus banjir di beberapa sungai memunculkan spekulasi bahwa aktivitas pembalakan dan tambang ilegal telah menjadi faktor pemicu utama. Pemerintah didesak untuk segera mengusut tuntas dugaan tersebut sebagai langkah mitigasi jangka panjang.
Sementara itu, selain bantuan fisik, fokus juga diberikan pada pemulihan psikologis korban. Polda Riau dilaporkan telah mengirimkan tim Trauma Healing ke lokasi pengungsian untuk membantu pemulihan mental dan psikis warga, khususnya anak-anak, yang mengalami trauma mendalam akibat bencana ini.
Upaya penanganan darurat ini diperkirakan akan memakan waktu yang signifikan, seiring dengan masih adanya ancaman curah hujan tinggi yang diperburuk oleh sisa-sisa Siklon Tropis Senyar.

Posting Komentar untuk "Presiden Perintahkan! Armada Laut dan Udara Dikerahkan: Begini Fokus Penanganan Bencana Sumatera"